Baterai Alumunium Smartphone Hanya 60 Detik Isi Ulang

Battery Pic

 

 

Ilmuwan dari universitas Standford telah berhasil membuat terobosan teknologi baterai smartphone terbuat dari alumunium graphite. Kehebatannya adalah mampu memberi kecepatan isi ulang penuh hanya perlu waktu selama 60 detik. Ini akan menjadi solusi bagi problem serapan daya baterai ponsel.

Walau sehebat apapun teknologi display, prosesor dan hardware pada ponsel sampai hari ini masih terkendala oleh masalah ketahanan baterai. Baterai alumunium yang bisa diisi ulang ini bisa menggantikan baterai yang ada sekarang.

Baterai hebat ini juga tidak akan mudah terbakat bahkan jika dibor sekalipun badannya. Alumuniium- ion baterai ini mengandung anoda bermuatan negatif dan katoda grafit bermuatan positif. Bahan yang tidak mahal, tidak mudah terbakar dan memiliki potensi bisa memuat kapasitas lebih besar.

 

Battery Andro
Sampai di tahap ini masih ada satu masalah bagi para ilmuwan adalah mengembangkan bahan yang tepat yang mampu berulang menghasilkan tegangan yang cukup setelah beberapa siklus pengisian dan pemakaian.

Baterai lithium-ion smartphone saat ini membutuhkan waktu isi ulang ber jam-jam, sementara teknologi mempercepat isi ulang sejauh ini dikembangkan dalam bentuk mode cepat isi ulang seperti yang dibuat Samsung dan HTC di mana dalam kisaran 15 menit masa isi ulang sudah bisa memenuhi 25% daya baterai. Namum baterai teknologi baru alumunium-ion hasil riset ini memberi waktu isi ulang yang belum pernah terbayangkan sebelumnya namun juga membuatnya lebih lama untuk pengisian dan pengosongan baterai (7.500 kali tanpa kehilangan kapasitas, dibandingkan dengan 1.000 siklus atau kurang untuk kemampuan baterai saat ini).

Desain baterai alumunium ini juga bisa memberi kapasitas ekstra di jaringan listrik terbarukan dan out put 2 volt bisa menggantikan 1.5 volt baterai sekali pakai jenis AA dan AAA. Inilah yang menlanjutkan penelitian tentang baterai alumunium ion walaupun voltasenya lebih baik dari baterai sekali pakai tapi dia masih setengahnya daya yang diperlukan pada smartphone. Untuk itu peneliti di Standford masih perlu pengembangan selanjutnya.

 

Sumber :

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*