PAPER ANALISA YANG BERTEMAKAN INTEGRASI NASIONAL

Standard

maxresdefault

“Konflik OPM Yang Tak Pernah Padam”

Seperti yang kita ketahui, berbagai macam kasus integrasi nasional masih saja terjadi di daerah Papua. Sudah sekitar 50 tahun, masyarakat Papua tak pernah merasakan hidup nyaman dan tentram sampai sekarang ini.  Salah satu ancaman utama integrasi nasional di Papua adalah adanya Organisasi Papua Merdeka (OPM). OPM adalah suatu klompok di Papua yang bertujuan ingin melepaskan Papua dari Negara Kedaulatan Republik Indonesia. Organisasi ini berdiri sejak tahun 1965, namun sebenarnya organisasi ini telah ada dan beroperasi sejak desember 1963. Organisasi ini terbentuk akibat atas terlambatnya kepastian Negara dan Para Penjajah (Belanda) mengenai Papua ini apapakh ikut dalam NKRI atau dikelola oleh Belanda.

Kegiatan yang dilakukan oleh OPM ini sangatlah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Diantara yang pernah dilakukan oleh OPM adalah :

1. pemberontakan bersenjata di daerah Papua yang banyak  menimbulkan korban-korban baik itu masyarakat lokal ataupun warga asing.

2. Mengancam PT Freeport dan membakar gudang penyimpanan serta memotong saluran bahan bakar sehingga mengakibatkan kerugian yang besar.

3. Mengibarkan bendera Kejora yang dinilai sebagai bendera negara yang akan dipimpin oleh OPM.

4. Melakukan aksi ujaran rasis terhadap mahasiswa Papua yang berada di Surabaya yang mengakibatkan terjadinya demostrasi besar yang terjadi di Papua.

5. Mengajak para masyarakat di Papua untuk bergabung dan melakukan aksi-aksi menyimpang dari Pancasila dengan tujuan melepaskan diri dari NKRI.

Banyak masyarakat Papua yang tergiur dan kemudian bergabung dengan OPM. Para pimpinan OPM sangat pintar merayu dan mengajak para masyarakat Papua dengan dijanjikan kemerdekaan dan hidup enak. Banyak dari masyarakat Papua yang merasa dibedakan di Indonesia. Mereka merasa orang asing di negeri sendiri, padahal Pemerintah telah memberikan otonomi khusus kepada mereka untuk kehidupan yang lebih baik. Tapi, masih ada sebagian orang yang menjadi provokator untuk memisahkan Papua dari NKRI. Beberapa indikator inilah yang membuat sebagian masyarakat Papua untuk bergabung dalam OPM dan mewujudkan tujuan OPM tersebut.

Pemerintah dalam hal ini tidak tinggal diam untuk memberantas OPM.  pemerintah berupaya menempuh langkah strategis, baik melalui lobi-lobi internasional maupun pendekatan dengan pemangku kepentingan (stake holder) di Papua. Di samping itu, pemerintah juga melakukan counter propaganda guna meluruskan dan meletakkan permasalahan Papua secara jernih dan objektif serta dapat dimengerti masyarakat internasional bahwa penyelesaian masalah Papua melalui Otonomi Khusus dalam kerangka NKRI merupakan solusi terbaik.  Upaya terakhir yang dilakukan pemerintah yaitu dengan melalui Tentara Nasional Republik Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memberhentikan gerakan OPM satu-persatu. Saat ini banyak anggota OPM yang telah dilumpuhkan dan sebagian masih dalam tahap pencarian.

Masyarakat juga dituntut ikut ambil bagian dalam hal ini. Masyarakat Papua diharuskan bersikap kooperatif tentang keberadaan OPM ini agar memudahkan pemerintah mengatasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh OPM. Masyarakat juga dilindungi oleh pemerintah dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan OPM, Para masyarakat Papua yang belum pernah sama sekali berinteraksi dengan OPM diyakinkan oleh pemerintah untuk tetap mendukung Papua dalam NKRI, kemudian mereka yang mantan OPM diberikan pembinaan khusus oleh pemerintah.

Referensi :

1. https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/organisasi-papua-merdeka#:~:text=Sejarah%20Organisasi%20Papua%20Merdeka,memisahkan%20diri%20dari%20Negara%20Indonesia.

2. https://www.bappenas.go.id/files/4613/5229/9693/bab-05separatisme__20090202212311__1757__4.pdf


” GAM TANDA NYATA ACEH SENGSARA”

Selain di Papua, kasus yang mengancam integrasi nasional juga terjadi di Aceh. GAM adalah organisasi di Aceh yang bertujuan hampir sama seperti OPM, yaitu memperoleh kemerdekaan (Aceh) untuk keluar dari NKRI. GAM terbentuk akibat ketidakpuasan sebagian rakyat Aceh mengenai kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, baik itu segi agama, ekonomi, dan sosial. GAM juga terbentuk akibat kecemburuan terhadap suku jawa yang dinilai memegang kekuasaan tertinggi di Indonesia ini.

Berbagai pemberontakan dan upaya disintegrasi dilakukan oleh GAM terjadi di Aceh dilakukan oleh GAM. Sampai-sampai Aceh saat itu berada di ambang batas negara Indonesia. Hal ini menimbulkan ketakukan segala pihak khususnya masyarakat Aceh. Kondisi ini menyebabkan terjadinya sebutan krisis militer di Aceh karena banyaknya pemberontakan dan kegiatan provokasi yang dilakukan oleh GAM.

Pemerintah dalam hal ini juga tak tinggal diam dalam menjaga keutuhan NKRI terutama di Aceh. Dalam hal ini pemerintah juga awalnya melakukan negosiasi dan penyuluhan internal kepada semua masyarakat aceh yang tidak puas dengan semua kebijakan negara. Namun negosiasi ini tak kunjung menemukan hasil. Oleh karena GAM yang terus melancarkan pemberontakan dan provokasi ndi berbagai daerah di Aceh, Pemerintah kemudian mengirimkan Tentara Nasional Republik indonesia untuk memberantas GAM. Kemudian, langkah ini berhasil mengamankan Aceh untuk tetap berada di Indonesia.

Peran serta rakyat juga sangat besar. Dalam hal ini masyarakat bekerja sama dengan rakyat yang memang masih ingin bertahan di Indonesia untuk mengajak rakyat Aceh lainnya untuk membangkitkan semangat NKRI dan tetap berada di Indonesia sekaligus pemerintah juga memberikan penyuluhan kepada rakyat aceh mengenai persatuan dan kesatuan yang harus terus ditingkatkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Rakyat juga berperan kooperatif dalam upaya membantu pemerintah untuk memberantas GAM. Akhirnya, oleh karena berbagai upaya tersebut, kasus GAM dapat dituntaskan dengan baik oleh Pemerintah dan Rakyat.

Referensi : https://id.wikipedia.org/wiki/Pemberontakan_di_Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>