ESENSI DAN URGENSI IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU DETERMINAN PEMBANGUNAN BANGSA DAN KARAKTER

 

Definisi Identitas Nasional Konsep identitas nasional dibentuk oleh dua kata dasar, ialah identitas dan nasional. Kata identitas berasal dari kata identity (Inggris).Kata nasional berasal dari kata national (Inggris) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), identitas berarti ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri. Sedangkan nasional berarti bersifat kebangsaan; berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa. Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan, identitas nasional lebih dekat dengan arti jati diri yakni ciri-ciri atau karakeristik, perasaan atau keyakinan tentang kebangsaan yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Apabila bangsa Indonesia memiliki identitas nasional maka bangsa lain akan dengan mudah mengenali dan mampu membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Identitas nasional Indonesia Bahasa nasional atau bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia Bendera negara yaitu Sang Merah Putih. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya. Lambang Negara yaitu Garuda Pancasila. Semboyan negara yaitu Bhineka Tunggal Ika. Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila. Konstitusi (Hukum Dasar) Negara yaitu UUD Bentuk Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Konsepsi Wawasan Nusantara. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional. Note : Silahkan membuka Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) pada Bab XV tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Pasal 35, 36A, 36 B, dan 36 C dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Bagaimana jati diri sebuah bangsa atau identitas nasional bangsa Indonesia? Identitas nasional bagi bangsa Indonesia akan sangat ditentukan oleh ideologi yang dianut dan norma dasar yang dijadikan pedoman untuk berperilaku. Semua identitas ini akan menjadi ciri yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa lain. Identitas nasional dapat diidentifikasi baik dari sifat lahiriah yang dapat dilihat maupun dari sifat batiniah yang hanya dapat dirasakan oleh hati nurani. Bagi bangsa Indonesia, jati diri tersebut dapat tersimpul dalam ideologi dan konstitusi negara, ialah Pancasila dan UUD NRI Apakah Pancasila dan UUD NRI 1945 telah terwujudkan dalam segenap pengetahuan, sikap, dan perilaku manusia Indonesia?

Jati diri bangsa Indonesia adalah nilainilai yang merupakan hasil buah pikiran dan gagasan dasar bangsa Indonesia tentang kehidupan yang dianggap baik yang memberikan watak, corak, dan ciri masyarakat Indonesia. Ada sejumlah ciri yang menjadi corak dan watak bangsa yakni sifat religius, sikap menghormati bangsa dan manusia lain, persatuan, gotong royong dan musyawarah, serta ide tentang keadilan sosial. Nilai-nilai dasar itu dirumuskan sebagai nilai-nilai Pancasila sehingga Pancasila dikatakan sebagai jati diri bangsa sekaligus identitas nasional.

Secara historis, identitas nasional Indonesia ditandai ketika munculnya kesadaran rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sedang dijajah oleh asing pada tahun 1908 yang dikenal dengan masa Kebangkitan Nasional (Bangsa). Rakyat Indonesia mulai sadar akan jati diri sebagai manusia yang tidak wajar karena dalam kondisi terjajah. Pada saat itu muncullah kesadaran untuk bangkit membentuk sebuah bangsa. Secara sosiologis, identitas nasional telah terbentuk dalam proses interaksi, komunikasi, dan persinggungan budaya secara alamiah baik melalui perjalanan panjang menuju Indonesia merdeka maupun melalui pembentukan intensif pasca kemerdekaan.

COVID-19

 

Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus yang baru ditemukan.

Sebagian besar orang yang terinfeksi virus COVID-19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki masalah medis mendasar seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker lebih mungkin mengembangkan penyakit serius.

Cara terbaik untuk mencegah dan memperlambat penularan diberitahukan dengan baik tentang virus COVID-19, penyakit yang disebabkannya dan bagaimana penyebarannya. Lindungi diri Anda dan orang lain dari infeksi dengan mencuci tangan atau sering menggunakan alkohol berbasis gosok dan tidak menyentuh wajah Anda.

Virus COVID-19 menyebar terutama melalui tetesan air liur atau keluar dari hidung ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, jadi penting bagi Anda untuk juga berlatih etiket pernapasan (misalnya, dengan batuk pada siku yang tertekuk).

Saat ini, tidak ada vaksin atau perawatan khusus untuk COVID-19. Namun, ada banyak uji klinis yang sedang berlangsung mengevaluasi perawatan potensial. WHO akan terus memberikan informasi terbaru segera setelah temuan klinis tersedia.

 

Virus COVID-19 mempengaruhi orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. COVID-19 adalah penyakit pernapasan dan sebagian besar orang yang terinfeksi akan mengalami gejala ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang yang memiliki kondisi medis yang mendasarinya dan mereka yang berusia di atas 60 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit parah dan kematian.

Gejala umum meliputi:

  • demam
  • kelelahan
  • batuk kering.

Gejala lain termasuk:

  • sesak napas
  • sakit dan nyeri
  • sakit tenggorokan
  • dan sangat sedikit orang akan melaporkan diare, mual atau pilek.

Orang dengan gejala ringan yang dinyatakan sehat harus mengisolasi diri dan menghubungi penyedia medis mereka atau saluran informasi COVID-19 untuk nasihat tentang pengujian dan rujukan.

Orang dengan demam, batuk atau kesulitan bernapas harus menghubungi dokter mereka dan mencari perhatian medis.

 

Untuk mencegah infeksi dan memperlambat transmisi COVID-19, lakukan hal berikut:

  • Cuci tangan Anda secara teratur dengan sabun dan air, atau bersihkan dengan usapan berbasis alkohol.
  • Pertahankan jarak minimal 1 meter antara Anda dan orang yang batuk atau bersin.
  • Hindari menyentuh wajah Anda.
  • Tutupi mulut dan hidung Anda saat batuk atau bersin.
  • Tetap di rumah jika Anda merasa tidak sehat.
  • Jangan merokok dan aktivitas lain yang melemahkan paru-paru.
  • Berlatih menjaga jarak dengan menghindari perjalanan yang tidak perlu dan menjauh dari kelompok besar orang.

 

 

Berikut adalah maps persebaran COVID-19 terbaru dari situs trackcorona.live yang menampilkan data terkini sesuai data dari WHO :

Screenshot (6)

atau bisa diakses secara langsung di TrackCorona.live

 Apa yang terjadi pada tubuh jika terinfeksi corona COVID-19?

 

Sama dengan penyakit corona lainnya seperti SARS, MERS, dan flu biasa, COVID-19 adalah penyakit pernapasan, sehingga biasanya paru-paru yang akan terkena lebih dulu. Jika seseorang diduga terinfeksi COVID-19, maka akan mengalami gejala klinis seperti batuk, bersin, demam, dan kesulitan bernapas yang muncul setelah 2 hari, atau selama 14 hari setelah terpapar virus.

Laman Centers for Diseases Control and Prevention menuliskan, gejala-gejala ini dapat muncul 2-14 hari setelah paparan (berdasarkan periode inkubasi virus MERS-CoV). Dilansir dari Healthline, tingkat keparahan COVID-19 bervariasi dari gejala ringan atau tanpa gejala hingga penyakit parah atau kadang fatal.

Menurut data pada lebih dari 17.000 kasus yang dilaporkan di Cina menemukan bahwa, hampir 81 persen kasusnya ringan. Sisanya parah atau kritis. Aljazeera menuliskan, rata-rata dibutuhkan sekitar lima hingga enam hari bagi seseorang untuk menunjukkan gejala setelah terinfeksi. Namun, beberapa orang yang membawa virus tetap tidak menunjukkan gejala apa pun.

COVID-19 merusak Paru-paru Orang yang lebih tua biasanya memiliki kondisi medis kronis dan berisiko mengembangkan penyakit ini lebih parah. Kondisi ini juga memengaruhi bagaimana COVID-19 menginfeksi paru-paru. Beberapa orang mungkin hanya memiliki gejala pernafasan minor, sementara yang lain mungkin mengalami kerusakan paru-paru parah. “Apa yang sering kita lihat pada pasien yang sakit parah dengan [COVID-19] adalah suatu kondisi yang kita sebut sindrom gangguan pernapasan akut, atau ARDS,” kata Dr. Laura E. Evans, anggota Society of Critical Care, sebagaimana dilansir Healthline. ARDS tidak terjadi hanya dengan COVID-19. Sejumlah kejadian dapat memicu itu, termasuk infeksi, trauma, dan sepsis (kondisi atau sindrom yang disebabkan oleh adanya mikroorganisme atau racunnya dalam jaringan atau aliran darah). Kondisi ini menyebabkan kerusakan pada paru-paru, yang menyebabkan cairan bocor dari pembuluh darah kecil di paru-paru. Cairan itu terkumpul di kantung udara paru-paru, atau alveoli. Ini membuat paru-paru sulit untuk mentransfer oksigen dari udara ke darah.

Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa kerusakan itu mirip dengan yang disebabkan oleh SARS dan MERS. Satu penelitian baru-baru ini terhadap 138 orang yang dirawat di rumah sakit menemukan bahwa rata-rata, orang mulai mengalami kesulitan bernapas 5 hari setelah menunjukkan gejala. Sementara ARDS berkembang rata-rata 8 hari setelah gejala. Perawatan untuk ARDS melibatkan oksigen tambahan dan ventilasi mekanis, dengan tujuan mendapatkan lebih banyak oksigen ke dalam darah.

Bagaimana ARDS dapat merusak paru-paru?

Pasien yang menderita ARDS akhirnya mengalami kerusakan pada dinding kantung udara di paru-paru mereka – yang membantu oksigen masuk ke dalam sel darah merah kita. Itulah yang oleh dokter disebut kerusakan alvelolar difus. Dalam paru-paru yang sehat, oksigen di dalam kantung udara ini (alveolus) bergerak ke pembuluh darah kecil (kapiler). Pembuluh kecil ini, pada gilirannya, mengirimkan oksigen ke sel darah merah Anda. “Alam telah berevolusi dengan cara yang membuat dinding alveolus sangat, sangat tipis pada orang normal sehingga oksigen dapat dengan mudah didapat dari ruang udara di antaranya ke sel darah merah,” Dr. Mukhopadhyay menjelaskan, sebagaimana dilansir Clevelandclinic. Virus corona merusak sel-sel dinding dan selaput alveolus serta kapiler. Puing-puing yang menumpuk karena semua kerusakan itu melapisi dinding alveolus dengan cara yang sama dengan cat yang menutupi dinding, Dr. Mukhopadhyay menunjukkan. Kerusakan kapiler juga menyebabkan mereka membocorkan protein plasma yang menambah ketebalan dinding. “Akhirnya, dinding alveolus menjadi lebih tebal dari yang seharusnya,” katanya. “Semakin tebal dinding ini, semakin sulit untuk mentransfer oksigen, semakin Anda merasa sesak napas, dan semakin banyak Anda mulai bergerak menuju penyakit parah dan mungkin kematian.” Kondisi yang dialami pasien satu dengan lainnya mungkin berbeda Dr. Yale Tung Chen, salah satu dokter yang terinfeksi virus corona baru atau COVID-19 saat menangani pasien di Hospital Universitario La Paz di Madrid, Spanyol menceritakan perjalanan penyakitnya itu dari hari ke hari. Dalam unggahannya di laman Twitternya, dokter berusia 35 tahun itu menunjukkan gejala dan kondisi antara satu pasien dengan pasien lainnya mungkin berbeda. Di satu sisi, pasien bisa saja sulit bernapas namun hal berbeda dirasakan Tung Chen. Sang dokter bahkan tidak demam dan nyeri dada. Berikut kondisi sang dokter yang sudah diwawancara berbagai media di luar negeri itu dalam laman Twitternya:

Hari pertama: Setelah diagnosis. Sakit tenggorokan, sakit kepala (kuat), batu kering tapi napas tidak pendek. Tidak ada tanda tak normal pada paru-paru.

Hari ke dua: Sakit tenggorokan, batuk dan sakit kepala berkurang. Napas tidak pendek atau nyeri dada.

Hari ke tiga: Tidak ada sakit kepala atau sakit tenggorokan. Kemarin, batuk masih ada, masih tidak ada nyeri dada dan napas pendek. Mulai diare tetapi batuknya membaik.

Hari ke empat: Batuk lebih sering, kelelahan (sangat parah), masih tidak ada dispnea atau nyeri dada.

Hari ke lima: Batuk dan lelah berkurang, masih tidak ada nyeri dada.

Hari ke enam: batuk berkurang, agak lelah, masih tidak ada dispnea. Tidak ada demam. Saturasi oksigen 98 persen (presentase hemoglobin yang berikatan dengan oksigen. Normalnya antara 95-100 persen).

Hari ke tujuh: Batuk dan lelah jadi memburuk lagi, tidak ada nyeri dada, tidak demam, tingkat saturasi oksigen 96 persen.

Hari ke delapan: Batuk berkurang dan lemas, masih tidak ada nyeri dada atau gejala berbahaya, tidak demam dan saturasi oksigen 96 persen.

Hari ke sembilan: Merasa lebih baik. Batuk lebih sering. Tidak ada nyeri dada dan tanda-tanda berbahaya. Tidak demam. Tingkat saturasi oksigen 97 persen.

Hari ke-10: Lelah berkurang, tapi batuk lebih sering, ageusia (tidak bisa mengecap rasa) dan anosmia (tidak bisa mencium bau). Tidak ada nyeri dada atau tanda berbahaya. Tidak demam. Tingkat saturasi oksigen 97 persen.

Hari ke-11: Lelah dan batuk berkurang. Tidak ada gejala dispnea atau tanda berbahaya. Tidak ada demam. Saturasi oksigen 98 persen.

Hari ke-12: Merasa lebih baik, gejala batuk, mual dan diare. Tidak ada nyeri dada. Tidak demam. Tingkat saturasi oksigen 98 persen.

Hari ke-13: batuk ringan, lemas, mual dan diare. Tidak ada gejala dispnea atau tanda berbahaya. Tidak ada demam. Tingkat saturasi oksigen 97 persen.

Hari ke-14: Lebih sedikit gejala – batuk, lemas, mual, sakit kepala ringan. Nafsu makan, kemampuan mencium bau. Tidak ada demam atau dispnea. Saturasi oksigen 98 persen.

PKN B PERTEMUAN 1

HAKIKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN  DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN UTUH SARJANA ATAU PROFESIONAL

Di pertemuan pertama ini kita membahas hakikat dari kewarganegaraan dalam mengembangkan kemampuan utuh sarjana atau profesional.

Dan bisa saya simpulkan bahwa  pendidikan kewarganegaraan sendiri adalah program pendidikan yang berisikan demokrasi politik yang dikembangkan dengan sumber sumber pengetahuan lainnya, yang di proses untuk melatih kemampuan pelajar untuk berpikir kritis dan analitis untuk mempersiapkan hidup demokratis yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

sedangkan untuk program sarjana telah dijelaskan di UU RI Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi yang menyatakan program sarjana merupakan jenjang pendidikan akademik bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat sehingga mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran ilmiah.

UU RI No 14 2005 tentang Guru dan Dosen. “Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dapat menjadi sumber penghasilan, perlu keahlian, kemahiran, atau kecakapan, memiliki standar mutu, ada norma dan diperoleh melalui pendidikan profesi”

Fungsi dari pendidikan ada 3, yaitu :

  1. Kognitif yaitu kemampuan rasional yang mampu menganalisa sampai mengevaluasi suatu masalah. Kemampuan ini dapat dinilai diatas kertas, seperti raport yaitu nilai yang kita dapatkan dari proses pendidikan.
  2. Afektif yaitu kemampuan emosional yang mengacu rasa ingin tahu dan dapat disalurkan dengan praktik langsung terhadap suatu masalah.
  3. Psikomotorik yaitu kemampuan untuk melakukan sesuatu dari ilmu yang ia dapatkan sebelumnya.

Jadi relasi yang bisa saya tarik sebagai kesimpulan adalah pendidikan kewarganegaraan yang didedikasikan untuk warga negara Indonesia yang mengenyam bangku pendidikan guna menuntut profesional dalam bekerja. Oleh karna itu pendidikan kewarganegaraan menjadi mata kuliah yang bersifat wajib di jenjang program sarjana.

Motivasi masuk TI

SEMESTER 1 :

gua pengen jadi anggota cicada3301

kalo gak kesampean jadi gamer aja deh.

SEMESTER 2 :

Disini saya mulai sedikit paham tentang dunia perkuliahan. Dan terlebih untuk program studi yang saya ambil. Setelah mengikuti kegiatan perkuliahan selama 1 semester, saya merasa ada kemajuan didalam diri saya sendiri. Hal itu juga yang membuat tujuan saya untuk kedepan semakin jelas. kini saya bercita-cita untuk menjadi software engineer.