Industri Pertanian Pertemuan Keenam

BIG DATA FOR AGRICULTURE

Data adalah sesuatu yang ada dicatat kemudian bisa digunakan, nanti ketika dikumpulkan bisa menjadi informasi yang berguna. Basis data adalah tempat penyimpanan data, agar data yang disimpan itu lebih terstruktur. Bentuk-bentuk database ada terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak-terstruktur. Jenis-jenis data diantaranya yaitu berupa teks, file, gambar, video, dan suara.

Big Data

Big data adalah sebuah istilah untuk menjelaskan tentang volume besar, variable data dengan kecepatan tinggi, kompleks yang membutuhkan teknik dan teknologi tingkat lanjut untuk mengaktifkan pengambilan, penyimpanan, distribusi, manajemen, dan analisa informasi. –TechAmerican Foundation

Karakteristik Big Data (10V)

Karakteristik Big Data

Big data memiliki karakter dasar 3V yaitu volume, velocity, dan variety. Namun pada perkembangannya bertambah lagi hingga memiliki karakter 10V.

Sumber Big Data

Remini20211003014108408Contoh penggunaan big data :

  • Chatbot (Retail, Business, dll)
  • Search Engine (Accurate search results)
  • AI (More use for AI, Data Science, dll)
  • IoT (Foster IoT Development)

Keuntungan menggunakan big data

  1. Dapat menentukan dan menganalisa penyebab dari suatu permasalahan yang terjadi dalam suatu sistem dan hasil analisis ditampilkan secara real-time.
  2. Pengambilan sebuah keputusan berdasarkan data dengan cerdas dan tepat.
  3. Mendeteksi sebuah anomali atau perilaku menyimpang dalam struktur bisnis.

Big Data on Agriculture

Agricultural big data berarti bahwa banyak data yang diciptakan secara alami dari tingkatan yang berbeda mulai dari menebar benih sampai memanennya. Teknologi big data dalam pertanian dapat mengambil dan menganalisa banyak data dari berbagai sumber dari berbagai macam daerah. Kumpulan dari agricultural big data disebut sebagai “crowed source”, yang dapat dilakukan via kendaraan terbang atau drone, dengan kamera khusus atau smartphone mulai dari satelit sampai smartphone itu sendiri. Data-data tersebut disimpan dalam database dan diproses dengan algoritma. Agricultural big data dapat digunakan untuk meneliti karakteristik dari benih, pola cuaca, keadaan dari tanah seperti pH dan nutrisi, manajemen marketing, kebiasaan konsumen, dan lain-lain. Sumber datanya dapat berasal dari segi biologis, geospasial, dan lingkungan.

Industri Pertanian Pertemuan Kelima

AI for Agriculture

Artificial intelligence atau kecerdasan buatan merupakan simulasi dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan di dalam mesin dan deprogram agar bisa berpikir seperti halnya manusia. Atau Ai merupakan sistem komputer yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang umumnya memerlukan tenaga manusia atau kecerdasan manusia untuk menyelesaikan pekerjaan  tersebut.

Pembahasan Ai for Agriculture :

1. Proses pada pertanian

  • Pengolahan lahan
  • Pembibitan
  • Penanaman
  • Pemanenan
  • Penjualan hasil
  1. Agroindustri

Agroindustri merupakan kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan alat serta jasa untuk kegiatan tersebut.

Tahapan dalam agroindustri diantaranya :

  1. Perencanaan
  2. Perancangan
  3. Pengembangan
  4. Evalusasi terpadu
  1. Revolusi industri 4.0

industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (IoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif. Tren ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup manusia itu sendiri. Singkatnya, revolusi 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Industri Pertanian Pertemuan Keempat

Dikesempatan kali ini saya akan membahas artikel jurnal tentang pengembangan pertanian dengan penerapan teknologi informasi dan komputer.

Jurnal yang ingin saya bahas berjudul “Sistem Pengukur Curah Hujan Sebagai Deteksi Kekeringan Pada Pertanian Berbasis Internet of Things” disusun oleh Satrio Setyo Laksono dan N Nurgiyatna dari Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hujan menjadi faktor penting dalam segala aspek kehidupan, terutama di sektor pertanian. Dalam industri pertanian tinggi rendahnya hujan sangat berpengaruh dalam pengelolaan sumber daya dan juga menentukan hasil panen yang akan didapati nanti. Baik curah hujan yang terlalu tinggi maupun curah hujan yang terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya kegagalan panen.

Berdasarkan permasalahan tersebut upaya yang digunakan untuk mempermudah perencanaan dalam pengelolaan lahan pertanian yaitu menggunakan penelitian dengan menggabungkan konsep IoT yang diterapkan pada sebuah Micro Computer dan melalui bot API (Application Programming Interface) Telegram sebagai media transmisinya untuk membuat sebuah “Sistem Pengukur Curah Hujan sebagai Deteksi Dini Kekeringan pada Pertanian Berbasis Internet of Things”.

Salah satu jenis alat ukur curah hujan otomatis yaitu tipe tipping bucket. Tipping bucket rain gauge merupakan alat penakar hujan yang menggunakan prinsip menimbang berat air hujan yang tertampung menggunakan bucket atau ember kemudian disalurkan dengan sebuah skala ukur (pias) yang telah ditetapkan berdasarkan pengujian dan kalibrasi. Dalam penelitian ini menggunakan Raspberry pi 3 sebagai controller. Bahasa pemrograman python digunakan untuk mengambil data dari sensor kemudian mengolahnya dan diteruskan melalui API telegram sebagai sebuah pesan. Sensor yang digunakan adalah sensor magnetic yang diterapkan dalam bentuk tipping bucket untuk membaca pengukuran curah hujan. Dengan menggunakan sebuah social media berupa Telegram.

Sumber: 
https://journals.ums.ac.id/index.php/emitor/article/view/8493/6573

Rangkuman Materi Industri Pertanian Pertemuan ketiga PSTI-C

PROSES PERTANIAN

Jenis Pertanian

1. Sawah

Sawah merupakan tanah yang digarap dan diairi untuk tempat menanam padi. Sawah dibagi menjadi beberapa 2 jenis diantaranya :

Sawah irigasi adalah sawah yang sumber airnya berasal dari tempat lain (bendungan, dam, waduk, danau ) melalui saluran-saluran yang sengaja dibuat untuk itu.

Sawah non irigasi yaitu lahan sawah yang tidak memperoleh pengairan dari sistem irigasi tetapi tergantung pada air alam seperti : air hujan, pasang surutnya air sungai/laut, dan air rembesan. Contoh sawah non irigasi diantaranya Sawah tadah hujan yaitu sawah yang sumber airnya tergantung atau berasal dari curah hujan. Sawah lebak yaitu sawah yang diusahakan di daerah rawa dengan memanfaatkan naik turunnya permukaan air rawa secara alami. Sawah pasang surut yaitu sawah yang irigasinya tergantung pada Gerakan pasang surut serta letaknya di wilayah datar tidak jauh dari laut.

2. Ladang 

Ladang adalah lahan pertanian bukan sawah (lahan kering) yang biasanya ditanami tanaman semusim dan penggunaannya hanya semusim atau dua musim, kemudian akan ditinggalkan bila sudah tidak subur lagi (berpindah pindah).

3. Tegalan/Kebun

Tegalan/Kebun adalah lahan bukan sawah (lahan kering) yang ditanami tanaman semusim atau tahunan dan terpisah dengan halaman sekitar rumah serta penggunaannya tidak berpindah-pindah.

Proses pertanian :
1. Pengelolaan lahan
2. Penyiapan budidaya
3. Pemanenan
4. Pemasaran

Rangkuman Materi Industri Pertanian Pertemuan Kedua PSTI-C 21

Penerapan Teknologi Informasi Melalui Pertanian Presisi Peningkatan Produksi Tanaman

Pertanian presisi atau biasa disebut juga smart farming merupakan pertanian yang berkaitan dengan revolusi industri. Pada zaman ini kita sudah memaskui revolusi industri 4.0

Lalu apa yang dimaksud dengan revolusi industri 4.0? Dilansir dari situs Kompas.com, ciri utama dari revolusi industri adalah penggabungan informasi dan teknologi komunikasi dalam bidang industri. Munculnya revolusi industri 4.0 menyebabkan adanya perubahan dalam berbagai sektor.

Salah satunya yaitu sektor pertanian, pada sektor pertanian ini penerapan yang dipakai yaitu disebut dengan smart farming. Smart farming merupakan metode pertanian cerdas berbasis teknologi yang dapat membantu dan memudahkan petani dalam melakukan pekerjaannya.

Beberapa contoh penerapan smart farming di sektor pertanian diantaranya :

  • Penggunaan drone untuk melakukan pemetaan wilayah, dalam bidang IT dapat dibuatkan sebuah software atau aplikasi untuk memonitor drone tersebut.
  • Pemanfaatan IoT untuk melakukan monitoring.
  • Pembuatan aplikasi mobile atau web tentang pertanian, agar dapat memudahkan petani dalam melakukan pemasaran, mendapatkan informasi dan menemukan investor untuk mendapatkan modal.
Rekayasa e – Aquaculture Untuk Otomasi Monitoring Tambak Udang

Provinsi Lampung merupakan daerah penghasil udang dan sebagian besar hasil udang diekspor ke luar negeri. Selain itu, Lampung juga merupakan provinsi pensupply benih Udang Vaname nasional nomor satu, yaitu sebesar 37,84 %.

Permasalahan yang dihadapi yaitu, tambak udang di Lampung masih dilakukan secara tradisional meskipun Sebagian sudah dilakukan secara intensif. Tambak udang secara tradisional di mana kontrol terhadap kualitas tambak itu sendiri dilalukan secara manual dan berkala. Hal ini mengakibatkan seringnya penurunan kualitas air terlambat diketahui.

Solusi yaitu berupa implementasi temuan perangkat IoT berupa sensor dan mini computer di pasang ditiap kolam untuk melakukan akuisisi data. Data dikirim ke master board untuk diteruskan ke database.