Motivasiku Masuk Teknik Informatika

Motivasi itu apa sebenarnya? Mengapa banyak orang yang memilih untuk tidak melanjutkan mimpinya kadang beralasan “Tidak ada motivasi untuk saya maju” atau “Untuk apa dan siapa saya melanjutkan ini?”

Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Kali ini, saya akan memberi tau apa motivasi saya sehingga saya sekarang bisa berdiri di antara puluhan mahasiswa baru Teknik Informatika Unila 2019.

Jujur, semua orang pasti ingin membanggakan kedua orangtua kita. Saya salah satunya. Saat – saat jatuh saya dimulai saat SNMPTN. Saya mendaftar di salah satu institut di Bogor dengan prodi yang sangat bertentangan dan tidak ada hubungan sama sekali dengan prodi yang saya tekuni sekarang. Ya, agribisnis. Tentunya, saya sempat berada di atas angin. Pihak bimbel saya, guru SMA saya, dan pihak konseling SNMPTN di sekolah saya sangat menyarankan dan mengatakan bahwa saya sangat berpeluang untuk diterima. Senyum mulai merekah di bibir saya. Tentu saja, nilai rata – rata raport saya cukup tinggi, SMA saya memiliki sejarah yang baik dengan institut tersebut, dan saya memiliki sertifikat – sertifikat yang cukup mendukung.

Namun, Allah tidak mengizinkan saya untuk diterima di institut tersebut. Teguran pertama untuk saya. Mungkin karena saya terlalu percaya diri dan sombong. Orangtua saya tentunya kecewa. Padahal, saya sudah yakinkan mereka bahwa tidak ada yang perlu diharapkan dari SNMPTN karena ini hanya peruntungan dan ‘hadiah kecil’ saja.

UTBK dimulai. Jujur saja, dengan mimpi saya yang setinggi langit, yaitu mencoba peruntungan di universitas top 3 atau setidaknya di fakultas kedokteran universitas top 20, usaha saya sangat tidak sesuai. Bolak – balik bimbel setiap hari, berlangganan bimbel online, dan sedikit latihan soal ternyata tidak cukup membantu. Nilai saya hanya berada di range menengah untuk mimpi saya yang sangat tinggi.

Saya pun dilanda kebingungan. Hasil dari berbagai macam rasionalisasi di webs SBMPTN tidak membuahkan hasil yang cukup baik. Membuat saya semakin tidak percaya diri. Sementara di lain sisi, orangtua saya semakin menekan saya untuk mencoba mendaftar di fakultas teknik. ‘Jurusan¬†apapun bebas. Asalkan fakultas teknik.‘ Ucap ayah saya. Jujur, saya paling anti dengan teknik. Saya pasrah diterima di jurusan manapun asalkan itu bukan dari fakultas teknik.

Mendekati hari penutupan pendaftaran SBMPTN, saya mulai bimbang. ‘Apakah lebih baik jika saya mengikuti perkataan orangtua yang menyuruh saya agar masuk teknik saja?‘ Pikir saya. Saya benar – benar tidak tau harus nekat daftar di prodi dan universitas yang saya inginkan dengan risiko yang fatal atau harus mengorbankan mimpi saya demi membahagiakan orangtua saya? Alhasil, saya memutuskan mengikuti keputusan orangtua saya. Saya memutuskan mendaftar Teknik Informatika Unila di pilihan pertama. Alasannya karena saya sempat mengikuti OSK Komputer sewaktu SMA. Walaupun jujur, saya sudah melupakan hampir seluruh pelajaran algoritma dan pemrograman, setidaknya saya punya dasar, itu pikir saya.

Selain diterima di fakultas teknik, mimpi tertinggi orangtua saya adalah saya diterima di sekolah kedinasan. Sampai – sampai ayah saya rela pergi umroh tahun ini demi menyampaikan keinginan besarnya itu pada Allah secara lebih intens. Tes sekolah kedinasan dilakukan sebelum pengumuman SBMPTN. Lagi dan lagi, persiapan saya terbilang tidak cukup matang. Berbekal persiapan H-7, saya berpasrah diri pada Allah. Naas, justru saya gagal di pelajaran yang saya sepelekan dengan selisih poin yang tipis. Baiklah, kegagalan saya yang lain yang menciptakan wajah muram pada orangtua saya.

Sambil menunggu pengumuman SBMPTN, saya berdoa terus menerus agar bisa diterima di pilihan pertama saya. Walaupun saya cukup percaya diri dengan skor UTBK saya, tetapi saya berusaha untuk menekan rasa terlalu percaya diri itu. Alasannya karena tidak mau gagal lagi karena Allah murka melihat saya yang selalu sombong.

Tangis haru ibu saya tercipta saat melihat pengumuman SBMPTN yang menyatakan saya lolos di pilihan pertama. Saya pun ikut menangis haru. Jujur, di momen ini saya benar – benar tersentuh. Ternyata melihat kebahagiaan di wajah orangtua saya mampu menutupi luka yang saya peroleh akibat mengorbankan mimpi saya. Ya, bisa disimpulkan bahwa motivasi terbesar saya masuk teknik informatika adalah orangtua saya.

Mulai saat itu saya bertekad pada diri saya. ‘Ayo buat senyum merekah di bibir orangtua saya lagi. Ayo toreh prestasi selama di universitas. Ayo lulus cepat dengan predikat cum laude. Ayo bekerja di perusahaan besar nantinya.‘ Saya mulai mencoba untuk menikmati apa yang sudah saya peroleh ini. Saya tinggal bekerja keras untuk mewujudkan mimpi – mimpi saya itu. Selalu ambil hal positifnya. Mungkin saja, jalan saya memang di sini.

-Fin

Published by

Rachel Adella

student of unila's informatics eng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>