beberapa kebudayaan lampung yang hampir punah

Seni Tradisi Lampung

Seni budaya tradisi Lampung terancam punah. Penyebabnya, banyak generasi muda Lampung yang berpendapat menekuni dan menikmati kesenian tradisi itu kuno, tidak modern, dan ketinggalan zaman.
Anggota Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL), Riagus Ria, di Sekretariat DKL, pekan lalu, mengemukakan pola pikir itulah yang banyak menghinggapi muda-mudi Lampung, termasuk yang berada di daerah-daerah yang seharusnya menjadi basis kesenian tradisi. Untuk itu kami berencana mendokumentasikan sastra-sastra lisan dan mengumpulkan kembali lagu-lagu klasik Lampung di daerah-daerah, ujar Gusria.
Sampai kini hanyalah generasi tua yang masih memiliki pengetahuan kesenian tradisi tersebut. Dia mencontohkan warahan, dadi, dan muayak sebagai bentuk-bentuk sastra lisan Lampung yang kini di ambang kepunahan. Pewarah (orang yang menuturkan warahan, red) pada umumnya sudah tua-tua, sehingga kalau sudah tidak ada, akan terputus. Mereka nantinya melihat seperti apa warahan, wawancan, pisaan, dan masih banyak kesenian lainnya yang asli untuk dipelajari generasi muda.
Sebab itu, seniman yang biasa disapa Agus ini berencana mengumpulkan data seniman-seniman tradisi Lampung yang ada di daerah-daerah. Kami akan mendata mereka dan kriteria yang kami gunakan adalah mereka yang bisa menciptakan dan juga bisa menampilkan. Sebab, itu merupakan kriteria umum yang digunakan menunjukkan kesenimanannya, kata seniman tradisi ini.
Selain itu pihaknya juga akan mendokumentasikan ornamen-ornamen ragam hias yang ada di Lampung. Sampai kini belum tersedia data-data yang lumayan lengkap mengenai ornamen ragam hias ini. Seni tradisi Lampung, kata Agus, selama ini nyaris terlupakan. Banyak orang Lampung yang merasa kurang pede (percaya diri, red) tetap melestarikan kesenian tardisi. Makanya kami akan menyosialisasikan, hingga akar-akar tradisi agar mereka tidak malu lagi.
Untungnya, kini ada lagi semangat mempertahankan kesenian tradisi agar tetap ada. Kebangkitan kesenian tradisi, antara lain atas andil acara Ragom Budaya Lampung (RBL) RRI Bandar Lampung. Misalnya, ada kampung A yang mementaskan keseniannya, kampung B merasa piil-nya untuk muncul lebih baik lagi dengan tampil lebih baik lagi. Agus melihat sekarang perkembangan yang menggembirakan karena dari kampung ke kampung sudah saling undang untuk menyelenggarakan kesenian tardisi. Itu dampak positifnya, sehingga kesenian tradisi semarak.
Untuk memberikan ruang apresiasi kepada generasi muda Lampung untuk bisa menikmati kesenian tradisi, Gusria mengatakan akan menggelar Pentas Seni Tradisi, sekitar Maret mendatang. Acara tersebut digelar di Pubian, Padangratu. Kami menggelar berbagai macam pementasan sastra lisan, gitar tunggal, tabuh kulintang, dan sebagainya, lanjutnya.
Dia juga akan menghadirkan berbagai makanan khas Lampung yang kini belum begitu dikenal masyarakat luar. Orang hanya mengenal lapis legit. Padahal banyak makanan tradisional yang sangat sederhana seperti juadah yang terbuat dari beras, dudul, segubal, berbus (terbuat dari ketan dan pisang), tambahnya.
Agus mengharapkan kesenian tradisi ini bisa ditransfer dari generasi tua ke muda. Budaya “Hahiwang” Lampung Barat Terancam Punah Liwa, Lampung Barat, 28/7 (ANTARA) – Budaya “hahiwang” yakni berupa seni melantunkan syair sastra Lampung, yang di dalamnya terkandung makna dan pesan moral, biasanya dibawakan pada acara adat juga hajat, untuk memberikan pesan bagi yang melaksanakan, terancam punah.”Seni Hahiwang semakin hari kian menghilang dari tengah masyarakat, semua terlarut dengan budaya modern yang dianggap sebagai budaya yang AS