Rangkuman Pertemuan Ketujuh: Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah adalah suatu karya tulis ilmiah yang menyesuaikan struktur artikel ilmiah dan menggunakan metodologi ilmiah dalam penyusunannya. Artikel ilmiah biasanya dipublikasikan di jurnal-jurnal yang berskala nasional dan internasional.

Artikel ilmiah mempunyai beberapa ciri sebagai berikut:

  1. Objektif, artinya isi artikel ilmiah tersebut hanya dapat dikembangkan secara aktual dan eksis. Setiap pernyataan harus mempunyai dasar yang jelas.
  2. Rasional
  3. Kritis, sebab artikel ilmiah memiliki fungsi untuk mengkritisi suatu permasalahan yang dibahas.
  4. Reserved, maksudnya adalah dinyatakan dengan hati-hati, jujur, dan tidak ada maksud-maksud tertentu.
  5. Artikel ilmiah memiliki gaya bahasa yang formal atau baku.
  6. Pengutipan sumber jelas dan disertai dengan daftar pustaka.

Artikel ilmiah juga memiliki struktur yang sedikit berbeda dari tulisan atau essay secara umum. Struktur artikel ilmiah yaitu:

  1. Judul

Seperti judul pada umumnya, judul pada artikel ilmiah haruslah singkat dan jelas menggambarkan keseluruhan isi artikel. Judul harus dibuat semenarik mungkin agar orang-orang mau membaca artikel tersebut.

  1. Baris Kepemilikan

Berisi tentang data penulis beserta asal instansinya.

  1. Abstrak

Abstrak pada artikel ilmiah berfungsi seperti rangkuman singkat tentang topik yang dibahas pada artikel tersebut. Idealnya, abstrak mengandung pokok masalah dan tujuan penelitian, menunjukkan pendekatan atau metode yang dipakai memecahkannya, dan menyuguhkan temuan penting serta simpulan yang didapatkan.

  1. Kata Kunci

Kata kunci berisi 2-5 kata yang dapat digunakan untuk mengindeks kandungan isi artikel. Kata kunci akan membantu pembaca untuk mencari artikel yang sesuai dengan kebutuhannya.

  1. Pendahuluan

Bagian pendahuluan ini menjelaskan apa yang menjadi permasalahan sehubungan dengan penelitian, sekaligus menyajikan parameter yang digunakan.

  1. Metode

Metode penelitian dalam artikel ilmiah berisi garis besar rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik pengambilan data, teknik analisis data, dan validitas data.

  1. Hasil dan Pembahasan

Bagian ini memuat hasil analisis data, bukan data mentah ataupun analisis ragamnya, sedangkan prosesnya tidak disajikan. Penjelasan hasil dilakukan dengan singkat, padat, dan jelas, serta dapat dibantu dengan table, grafik, dan sebagainya.

Pembahasan bertujuan untuk menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan yang sesuai dengan permasalahan penelitian.

  1. Simpulan dan saran

Simpulan dan saran dalam artikel ilmiah merupakan bagian akhir atau penutup. Simpulan merupakan pembuktian singkat akan kebenaran hipotesis dan menjawab permasalahan-permasalahan penelitian yang telah ditentukan. Sedangkan saran adalah masukan-masukan yang berkaitan dengan penelitian untuk para peneliti selanjutnya.

  1. Ucapan terima kasih

Ucapan terima kasih diberikan atau dituliskan penulis kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi terhadap penelitian yang telah dilakukan tersebut.

  1. Daftar Pustaka

Daftar rujukan atau daftar pustaka adalah daftar rujukan-rujukan atau referensi yang digunakan dalam artikel ilmiah tersebut. Bagian daftar pustaka harus lengkap dan sesuai dengan acuan dan sudah disebut dalam batang tubuh.

Selanjutnya, artikel ilmiah yang telah dibuat dapat dipublikasikan. Publikasi bisa melalui konferensi atau menerbitkannya ke jurnal nasional atau internasional.

  1. Konferensi atau Seminar

Konferensi atau seminar nasional/internasional merupakan suatu pertemuan ilmiah para akademisi yang bertujuan untuk membagikan hasil penelitian-penelitian yang pada akhirnya akan dipresentasikan. Konferensi yang diadakan suatu kampus atau instansi tertentu biasanya bisa bertaraf nasional bahkan internasional.

  1. Jurnal Nasional/Internasional.

Jika penulis berhasil menerbitkan artikel ilmiahnya pada jurnal yang bereputasi, hal tersebut akan meningkatkan kualitasnya sebagai akademisi.

Rangkuman Pertemuan 6: Big Data

Pada era digital seperti sekarang ini, ribuan bahkan jutaan data yang bersumber dari website, media sosial, dan lainnya, tercipta setiap harinya. Kumpulan data inilah yang kita kenal dengan big data. Sejatinya, big data, seperti namanya adalah kumpulan data yang berjumlah sangat besar. Data-data ini nantinya akan disimpan, diolah, dan dianalisis agar terciptanya informasi untuk keperluan pengambilan keputusan.

Ada tiga konsep yang perlu dipahami untuk mengenal big data:

  1. Volume

Jumlah atau volume data yang tercipta dan dikumpulkan setiap harinya sangat banyak.

  1. Velocity

Data-data tersebut tercipta dengan sangat cepat dan perlu diproses dengan cepat pula.

  1. Variety

Data yang ada terdiri dari berbagai macam jenis, tidak terbatas hanya pada satu jenis saja.

Informasi dari data-data yang telah diolah, diproses, dan dianalisis, akan menjadi dasar untuk mengambil langkah selanjutnya.

Pada bidang pertanian, biasanya data yang dikumpulkan berupa kondisi tanah, kelembapan, suhu, pH, dan sebagainya. Data-data ini nantinya akan diolah menjadi informasi, untuk ke depannya akan digunakan sebagai pertimbangan ketika mengambil keputusan. Apakah tanaman yang ditanam sudah sesuai dengan kondisi lahan, apakah diperlukan pupuk tambahan, semua langkah yang akan dilakukan akan didasarkan pada informasi yang terkumpul.

Jika informasi yang ada digunakan dengan baik, tanaman diharapkan akan tumbuh dengan maksimal. Kendala dan risiko yang mungkin terjadi juga dapat diminimalisasi. Pada akhirnya, hasil panen akan memiliki kualitas yang maksimal.

Rangkuman Pertemuan Kelima: AI for Agriculture

Proses pertanian adalah proses pada pengembangan di bidang pertanian dari awal hingga akhir. Agar mencapai hasil pertanian yang maksimal, harus dilakukan standardisasi proses, yaitu mengawasi setiap proses pertanian agar sesuai standard yang baik, serta standardisasi hasil yakni mengecek apakah hasil tani sesuai dengan standard yang ditentukan pasar. Ada beberapa tahap dalam proses pada pertanian, yakni sebagai berikut:

  1. Pengolahan lahan
  2. Pembibitan
  3. Penanaman
  4. Pemanenan
  5. Penjualan hasil

Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut. Proses Agroindustri yaitu:

  1. Perencanaan
  2. Perancangan
  3. Pengembangan
  4. Evaluasi Terpadu

Dalam melakukan agroindustri, diterapkan pula precision agriculture menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Penggunaan artificial intelligence pada pertanian juga dibantu oleh IoT sebagai sensor yang nantinya juga berfungsi sebagai pengumpul data, kemudian pengambilan keputusan akan dilakukan oleh AI.

Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi dunia dan perubahan perilaku konsumsi, ketahanan pangan dunia adalah tantangan besar yang sedang dihadapi dunia. Kunci dari masalah ini adalah meningkatkan tingkat efisiensi produksi pangan. Maksudnya, dengan menggunakan lebih sedikit natural resources seperti air dan lahan, dapat diproduksi hasil pangan yang lebih banyak.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, efisiensi pangan dapat diciptakan melalui teknologi AI. Berkaca dengan Belanda, kita dapat membuat greenhouse dilengkapi dengan AI. Sistem ini akan mendeteksi kebutuhan yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh maksimal, yang pada akhirnya akan  meningkkatkan produksi pangan

Singapura adalah salah satu negara yang sudah menggunakan teknologi AI di bidang pertanian. Mereka menggunakan sensor 24 jam yang bertugas mendeteksi kelembapan, level air, cahaya, dan lain-lain. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk membuat tindakan yang harus dilakukan agar tanaman tetap terjaga. Namun, terdapat kendala dalam penerapan AI ini yaitu keuntungan yang dihasilkan tidak cukup untuk menutup ongkos produksi yang cukup besar. Hal ini salah staunya disebabkan oleh jumlah produksi yang belum dimaksimalkan.

Penerapan teknologi pada pertanian juga mulai diterapkan di India. Hal ini dapat mengurangi risiko pengurangan kualitas hasil panen karena komputer akan segera memperingatkan petani apabila terjadi suatu perubahan pada tanaman.

Di Indonesia juga mulai diterapkan teknologi di bidang pertanian. Salah satunya inovasi pertanian hidroponik, yang juga telah terotomatisasi dalam mengatur suhu, kelembapan, pH air, dan konsentrasi pupuk.

Penerapan AI di Indonesia tentunya akan sangat membantu dari segala aspek, termasuk bidang pertanian. Namun, nyatanya kesiapan penerapan AI di Indonesia belum terlalu tinggi. Beberapa kendalanya yaitu pengelolaan big data dan mindset inovasi. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai tiga kemampuan utama: kemampuan analitis, pengambilan inisiatif, dan keterampilan IT.

Penerapan teknnologi AI, terutama dalam bidang pertanian, dapat menjawab tantangan ketahanan pangan untuk saat ini dan di masa mendatang. Sebagai negara agraris, Indonesia hendaknya segera meluaskan teknologi ini agar terciptanya pertanian yang berkelanjutan.

Pencegahan Penyakit Daun Hawar pada Kentang Menggunakan Cloud IoT

Penyakit daun hawar pada kentang adalah salah satu penyakit yang sangat merugikan dan tersebar dengan cepat. Penyakit daun hawar yang kerap menjangkiti tanaman kentang sangat merugikan para petani dari berbagai sisi. Secara ekonomis para petani harus menambah biaya produksi, secara lingkungan dapat meningkatkan risiko penumpukan jamur, secara sosial menyita waktu petani karena harus terus-terusan mengawas, serta image perkebunan di masyarakat semakin buruk sebab penggunaan bahan kimia yang berlebihan.

Jika terdapat permasalahan pada salah satu tahap awal pertanian, dalam hal ini penyiapan budidaya, maka besar kemungkinan akan ada banyak kesulitan di tahap-tahap berikutnya. Apabila penyiapan budidaya buruk, kualitas hasil panen yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang rendah, dan otomatis memiliki nilai jual yang rendah pula. Oleh sebab itu, permasalahan pada tahap ini tidak bisa dianggap sepele.

Masalah  ini dapat diatasi dengan penggunaan Decision Support Systems (DSS). Sistem ini bisa mengurangi risiko penyakit pada tanaman tanpa menambah biaya produksi yang berlebih. Sistem bekerja dengan mengumpulkan data setempat, seperti cuaca dan kelembaban, serta temperatur.

Dalam kasus ini, DSS yang akan diterapkan yaitu SIMCAST, sebab sistem ini simpel dan efektif. Input yang diberikan pada sistem adalah jumlah durasi (jam) di mana kelembapan mencapai 90% dan temperatur rata-rata. Berdasarkan data ini, sistem menganalisis kemungkinan munculnya penyakit daun hawar menggunakan parameter “Blight Units”. Jika jumlah “Blight Units” besar, sistem akan memberi notifikasi pada petani agar segera memberikan treatment pada tanaman.

Sistem ini terdiri atas tiga bagian, yaitu:

  1. Wireless Sensor Network (WSN)

WSN mengumpulkan data-data suhu, kelembapan, dan tekanan melalui sensor. Data-data tersebut kemudian disalurkan ke local gateway.

  1. Local Gateway

Local gateway menghubungkan antara WSN dan pengguna melalui internet. Local gateway hanya berfungsi sebagai penyalur. Data yang ada biasanya akan diolah oleh aplikasi yang ada di end user.

  1. IoT Cloud

IoT Cloud berfungsi menyimpan dan mempresentasikan data yang telah didapatkan. IoT Cloud inilah yang naantinya akan memberi peringatan bagi petani agar segera memberi treatment jika besaran “Blight Units” sudah mencapai 30.

Penerapan IoT untuk mencegah penyakit daun hawar pada kentang ini adalah solusi yang efektif. Petani tidak memerlukan banyak biaya untuk memasang sistem berkabel sebab sistem ini tidak memerlukan kabel (wireless). Petani juga dapat menghemat banyak waktu, tidak perlu mengawasi terus-terusan, sistem yang akan memperingatkan mereka jika tanaman butuh perawatan. Sistem ini dapat dikembangkan lebih baik lagi apabila sensor bisa mendeteksi perubahan fisik pada daun, sehingga hasil analisis yang dihasilkan diharapkan akan lebih akurat.

 

*Tulisan ini adalah rangkuman singkat dari jurnal berjudul “Using Cloud IOT for disease prevention in precision agriculture” oleh Karim Foughali (Communication System Laboratory Sys’Com, National Engineering School Of Tunis, University Tunis El Manar, Tunisia), Karim Fathallah dan Ali Frihida (National Engineering School Of Tunis, University Tunis El Manar, Tunisia), diterbitkan oleh Elsevier B. V. pada tahun 2018.

 

 

Rangkuman Proses Pertanian

Pengertian pertanian secara garis besar dapat diringkas menjadi empat komponen yang tidak terpisahkan. Keempat komponen tersebut meliputi: (1) proses produksi, (2) petani atau pengusaha pertanian, (3) tanah tempat usaha, dan (4) usaha pertanian (Soetriono et al., 2006).

Salah satu komponen pertanian adalah proses pertanian. Proses pertanian dimulai semenjak persiapan lahan tani. Kemudian, dilanjutkan dengan proses budidaya, pemanenan dan akhirnya pemasaran.

Untuk menyiapkan lahan, terlebih dahulu kita harus menentukan jenis pertanian yang akan diolah. Jenis pertanian dapat ditentukan sesuai kondisi geografis lahan dan tanaman yang akan dibudidayakan. Beberapa jenis pertanian yaitu sebagai berikut:

  1. Sawah

Tanah sawah didefinisikan sebagai tanah yang digunakan untuk bertanam padi sawah yang digenangi, baik terus-menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija. Sistem pengairan sawah dapat dibagi menjadi dua, yaitu sawah irigasi dan nonirigasi.

Sistem pengairan sawah irigasi menggunakan sumber air mengalir, baik alami maupun buatan. Dibuatnya irigasi buatan bertujuan agar sumber air dapat lebih dekat dengan sumber air.

Sebaliknya, sawah nonirigasi tidak menggunakan sumber air mengalir. Beberapa contoh sawah nonirigasi yaitu sawah tadah hujan, pasang surut, dan sawah berundak. Biasanya, sawah nonirigasi sangat bergantung pada kondisi geografis dan cuaca setempat.

  1. Pertanian Lahan Kering.

Berbeda dengan sawah, jenis pertanian ini tidak digenangi air secara terus-menerus. Pertanian lahan kering dapat dibedakan berdasarkan kondisi geografisnya, beberapa di anataranya ialah ladang, tegalan, dan kebun. Ladang biasanya berada di daerah subur, lahan yang luas, dan dapat ditanami bermacam-macam komoditas pangan yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan geografis. Tegalan kurang lebih sama seperti ladang, hanya saja lokasinya berada di dataran yang lebih tinggi.

Sementara kebun tidak terbatas pada lahan yang luas. Kebun bisa disiapkan atau direkayasa di halaman belakang rumah, yang tentunya tidak seluas ladang dan tegalan. Komoditas yang dibudidayakan pun beragam sesuai kondisi tanah, bisa sayuran atau buah-buahan.

  1. Peternakan dan Perikanan

Seperti namanya, peternakan dan perikanan membudidayakan komoditas hewani untuk konsumsi masyarakat luas.

Proses Pertanian

  1. Pengolahan Lahan

Pertama, pastikan kondisi tanah dan geografis seperti ketinggian, pH tanah, suhu, dan lain-lain cocok dengan komoditas yang akan ditanam. Kemudian, lahan diolah sesuai kebutuhan komoditas, misalnya lahan dibuat berundak pada perkebunan teh.

  1. Penyiapan budidaya

Benih tanaman dipersiapkan dengan baik, disemai hingga tumbuhan siap dipindahkan ke tanah. Selanjutnya, komoditas dijaga dan dirawat dengan baik sehingga akhirnya siap panen.

  1. Pemanenan

Ketika datang masa pemanenan, komoditas masih harus terus dijaga, terutama kualitasnya agar nilai jual tidak berkurang.

  1. Pemasaran

Hasil panen yang sudah final akhirnya didistribusikan kepada konsumen. Jalur distribusi bisa langsung dari petani ke penjual atau melalui distributor.

Proses pertanian di atas dapat dibantu dengan penerapan teknologi. Misalnya, pada proses pengolahan lahan dapat diterapkan precision agriculture agar dapat dipastikan cocok tidaknya tanah dengan komoditas yang akan ditanam. Hingga akhirnya pada saat proses pemasaran, dpaat melalui aplikasi jual-beli sayur dan buah-buahan sehingga biaya distributor dapat dipangkas.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknologi dapaat merambah dalam semua proses pertanian. Hal ini diharapkan bisa membuat kegiatan pertanian menjadi lebih efektif dan efisien.

 

Sumber tambahan:

https://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/juknis/pemulihan%20lahan.pdf

Rangkuman Precision Agriculture dan Rekayasa E-Aquaculture

Kehadiran Revolusi Industri 4.0 membuat segala aspek kehidupan terdigitalisasi, termasuk bidang pertanian. Terdapat istilah precision agriculture, yaitu sistem pertanian yang mengoptimalkan penggunaan sumberdaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Penggunaan teknologi dapat membantu pewujudan precision agriculture. Berikut adalah beberapa bidang yang dapat menggunakan teknologi:

  1. Pengolahan Lahan
  • Teknologi GPS dapat membuat jalur traktor otomatis.
  • Penyiraman kebun menggunakan traktor tanpa awak
  • Pemetaan, pengukuran lahan, dan remote censoring menggunakan drone
  1. Monitoring

Beberapa hal penting yang dapat dipantau menggunakan Internet of Things (IoT) yaitu diagnosis penyakit, tingkat kesuburan, water stress, dan soil erosion.

  1. Pemasaran

Terdapat aplikasi untuk menghubungkan petani dan pembeli, sehingga harga yang didapat bisa lebih murah karena memotong biaya distribusi. Selain itu, ada pula aplikasi yang menghubungkan antara investor dan petani, yang nantinya akan membagi hasil yang didapatkan.

Pertanian juga tidak terbatas pada persawahan dan perkebunan, melainkan juga termasuk di dalamnya perikanan. Ada banyak sarana budidaya perikanan yang diterapkan di Indonesia, salah satunya tambak. Tambak dalam perikanan adalah kolam buatan, biasanya di daerah pantai, yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan (akuakultur). Hewan yang dibudidayakan dalam sarana tambak salah satunya adalah udang.

Lampung diketahui sebagai daerah penghasil udang terbesar di Indonesia, dengan kegiatan utamanya adalah ekspor. Selain itu, Lampung juga dikenal sebagai supplier benih udang Vaname nasional nomor satu.

Namun, kebanyakan tambak udang di Lampung masih dioperasikan secara tradisional, meskipun sebagian sudah ada yang intensif. Kontrol kualitas pada tambak udang tradisional dilakukan secara manual dan berkala, yang dapat menyebabkan terlambat diketahuinya penurunan kualitas air. Kualitas air yang buruk dapat menimbulkan resiko udang menderita penyakit white feces. Hal ini dapat menurunkan kualitas udang yang otomatis menurunkan harga jualnya.

Solusi yang dapat dilakukan salah satunya adalah melakukan sistem monitoring kualitas tambak udang berbasis IoT. Monitoring dilakukan dengan memasang sensor dan komputer mini di setiap kolam untuk akuisisi data. Data yang dikumpulkan misalnya pH air, salinitas, suhu, dan kadar oksigen. Data-data tersebut nantinya akan dikirim ke master board, kemudian diteruskan ke database.

Berdasarkan dari beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu informatika dapat diterapkan di segala bidang, tidak terkecuali pada pertanian. Penerapan IoT pada pertanian dapat membantu petani-petani Indonesia dalam meningkatkan hasil panen, sehingga bukan hal yang mustahil untuk mencapai swasembada pangan jika kita mulai menggabungkan teknologi dan pertanian (smart farming).

 

Sumber tambahan tulisan:

http://id.dbpedia.org/page/Tambak_ikan

https://smart-farming.tp.ugm.ac.id/2020/09/13/pengembangan-konsep-pertanian-presisi-di-indonesia/